‏إظهار الرسائل ذات التسميات Cerpen. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Cerpen. إظهار كافة الرسائل

الثلاثاء، 13 سبتمبر 2022

Berbakti kepada orang tua


Pada suatu hari di pagi hari Minggu dengan sinar matahari terbit yang indah, Vania belum juga bangun tidur Vania lalu dibangunkan ibunya tapi Vania tetap tidak bangun, Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 Vania baru bangun ia langsung membasuh mukanya, lalu Vania disuruh ibunya untuk menyapu tapi Vania tidak mau dan malah main HP.

Saat Jam menunjukkan pukul 01.00 siang ayah Vania pulang dan membawa makanan. Vania disuruh ayahnya untuk mengambilkan piring dan sendok tetapi Vania pun tak mau Vania adalah anak yang nakal jika disuruh oleh orang tuanya dia tidak menurut dan tidak mau.

Dan Pada suatu hari Vania menyesal karena orang tuanya marah padanya Vania lalu meminta maaf pada orang tuanya dan berjanji akan patuh dan tidak nakal lagi, dari hari itu Vania menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya dan sering membantu orang tuanya orang lain maupun teman-temannya, jadi kita tidak boleh membuat orang tua marah karena itu durhaka dan perbuatan tercela dengan mengingat bahwa surga dibawah telapak kaki ibu kita harus berbakti pada orang tua.


Cerpen ini ditulis oleh aktifis penggiat karya sastra, Mbak Anya yang juga peserta ekstrakurikuler Jurnalistik.

الخميس، 28 نوفمبر 2019

Kejutan untuk Bu. Rusmi

Pada hari itu tepatnya hari senin, kami seluruh siswa SMPN 2 Ngimbang mengadakan acara yaitu acara untuk memeringati hari guru. Pada hari itu aku bersemangat sekali untuk pergi kesekolah. Aku tiba di sekolah sangat pagi. Setelah aku sampai di sekolah aku berkumpul di lapangan utuk melaksanakan upacara bendera. Yahh..... Seperti biasa setiap hari senin pasti akan upacara bendera

        Upacara bendera hari ini sangat beda seperti hari-hari sebelumnya petugas upacaranya adalah Bapak dan Ibu guru. Kurang lebih satu jam telah berlalu dan upacaranya baru selesai, setelah upacara selesai kami semua berbaris untuk berjabat tangan dengan Bapak dan Ibu guru. Setelah itu kami masih berkumpul di lapangan untuk makan bersama, makanan yang kami makan telah di siapkan oleh wali kelas masing-masing.


       Tak lama kemudian kami selesai makan dan kami menuju kelas masing-masing untuk membersikanya. Aku menyapu lantai kelas dengan beberapa temanku. Sementara lainya ada yang membersikan taman, ada yang membersikan halaman samping kelas dan ada yang membersikan dinding serta cendela kelas. Waktu yang kami miliki cukup banyak sehingga kami meluangkan sedikit waktunya utuk menghias kelas. Kelasku sudah mempersiapkan sebuah hadia untuk kami berikan kepada wali kelas kami. Jadi rencana hari itu adalah mengasih kejutan untuk Bu. Rusmi yang tak lain lagi adalah wali kelas kami yaitu kelas 8C. Dia adalah sosok guru yang sangat sabar, baik hati, dan pengertian. Setelah kami selesai menghias kelas kami di panggil ke lapangan untuk melakukan Adiwiyata, kami semua membersikan Lapangan dan halaman di sekitarnya, iyh..... Sekolahan kami adalah sekolahan yang selalu menjaga adiwiyata. Setelah itu kami menuju kekelas lagi utuk melanjutkan rencana kami.


      Setibanya kami di kelas kami langsung menyiapkan rencana kami dengan matang-matang.salah satu temanku ada yang memanggil Bu. Rusmi dengan alasan ada anak perempuan yang menangis akibat di bully oleh anak laki-laki. Setibanya Bu. Rusmi di kelas kami langsung mengejutkanya. Kami memberikan surat, bunga, dan tak lupa kado dari kami. Bu. Rusmi kelihatanya merasa begitu senang dengan hadia yang kami berikan. Walaupun hadianya tidak seberapa tapi dia tetap menerimanya dengan senang. Setelah itu Bu. Rusmi juga memberikan pesan-pesan kepada kami agar selalu menjadi anak yang baik, bartanggung jawab, serta selalu hormat kepada orang tua kita dan bapak ibu guru kita. Dan setelah itu kami berfoto-foto dengan Bu. Rusmi untuk di jadikan kenang-kenangan.





Cerpen ini ditulis oleh Ria Septiana kelas 8C sekaligus peserta pengembangan diri Jurnalistik

الاثنين، 16 سبتمبر 2019

Maafkan aku ibu..

Sudah 7 bulan ini, prahara tak henti-henti menerpa keluargaku. Silih berganti bak palu godam yang menghantam bangunan kokoh yang berdiri tegak. Dimulai dari kakak angkatku,  Mbak Rida yang minggat entah kemana, mobil bapakku yang menabrak di depan Kebun Tebu Mas (KTM) Ngimbang, hingga masalah finansial yang membelit perekonomian keluargaku bak ular piton yang meremas mangsanya.
Allohuakbar.. Alloh Maha Besar dengan kerajaannya dan semua keanekaragaman mahluk ciptaanNya. Sungguh.. Kutak kuat menatap dan menghadapi ini semua. Otak kecilku, yang masih terbilang masa pubertas sulit untuk menerjemahkan ujian Allah yang datang silih berganti.
Suasana senyum bahagia, gelak tawa mulai tak terdengar dan tak terlihat di meja makan kalau sore. Yang biasanya, aku berebut ikan ayam sama adikku. Ibu sakit-sakitan dengan beban pikiran yang berlebihan ditambah lagi sekarang beliau sekarang hamil tua, yang mungkin kelahirannya nanti akan menjadi adik keduaku.
Bapak jarang banget pulang, aku menyadari beban hutang yang melilit harus ditambal dengan kerja keras dan banting tulang. Sehingga jarang sekali pulang kecuali ada sesuatu yang sangat penting..
Aku sulit menerjemahkan semua ini, aku hanya pengen keluarga bahagia tak lebih dari itu. Rangking 1 dan 2 yang selalu menghiasi rapotku di kala aku masih SD mungkin bisa menjadi kumpulan nilai merah yang tertulis di rapot SMPku yang sekarang aku di kelas 9. Tawaran merokok, bolos sekolah, bahkan mencuri mangga tetangga aku lakukan. Hanya semata-mata untuk melupakan permasalahan yang ada di otakku. Ditambah kumpulan nasehat bijak dari nenek yang dikemas tajam, sering bikin aku oleng dalam menatap masa depan.
Ohh Tuhan.. Aku, ibuku, bapakku, adikku, mbakku, nenekku dan keluargaku hanyalah wayang wayang yang kau mainkan ruwet seperti ini. Sungguh ku tak kuat.. Ku mohon.. Ringankanlah beban ini.. Pundak kecilku tak mampu menanggung semua ini.
Dan khusus ibu.. Maafkan anak sulungmu. Belum bisa buatmu tersenyum bangga, menangis bahagia karena prestasi. Malah menambah beban pikiranmu.
Tak ada niat menyiksa batinmu dengan semua ulahku.. Ku hanya pengen semuanya kembali seperti dulu. Saat kita berkumpul dengan keluarga, makan di restoran. Dan dengan polos aku makan dua porsi makanan kesukaanku.

Ngimbang gersang tandus, 17 September 2019. Seorang yang ringkih dan ingin menatap masa depan dengan optimis.

Cerpen ini ditulis Pak Suhari, untuk siswanya yang lagi berjuang untuk menjadi pria dewasa, meski sebelum waktunya..